10.15

Akhirnya setanpun pensiun dari jabatannya, kasihan deh !!!

Diposkan oleh .:: universal blog herry potter's ::. |

Pernyataan itulah yang aku peroleh dari rasulku.

Bagaimana bisa hal itu terjadi????

Jawab rasulku dengan senyumnya yang lembut dan penuh kasih, : “Coba perhatikan, ketika seorang atau sekelompok orang meneriakimu sebagai ‘laskar setan, laskar setan!!!!’ apa reaksimu? Marah. Kemudian kamu dan kelompokmu melakukan penganiayaan dan pemukulan yang bertubi-tubi tidak perduli laki-laki, perempuan tua/muda bahkan anak-anak. Hingga timbul korban yang mengakibatkan sekian orang terluka. Kamu dan kelompokmu marah karena kau merasa direndahkan sebagai pengikut setan/laskar setan. Sesungguhnyalah kau telah menggantikan posisi setan itu sendiri sehingga tidak mengherankan jika kemarahan yang sangat menggelapkan mata hatimu.”

Kemudian rasulku menambahkan “ Ingatlah pada :

Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]“. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al-Baqarah: 11) dan

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; (Asy Syu’araa’: 183)

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya: 107)

Memang aku tidak mau terima dikatakan sebagai pengikut setan, karena setan yang selama ini mempunyai pekerjaan sebagai penggoda manusia untuk melakukan tindakan yang tidak berkenan bagi Allah sudah kami ambil alih atau gantikan. Jadi aku bukan lagi pengikutnya sebagaiman mereka teriakan pada aku serta kelompokku. Sehingga tidaklah mengherankan bila aku dan kelompokku merasa direndahkan sebagai laskarnya. Jadi sudah sepantasnya kalau kami marah.

Dalam hatiku berteriak ‘ Itu kan dulu, sekarang bukannya diriku sebagai penggantinya bukan lagi laskar ataupun pengikutnya’ Bagaimana tidak? Ketika dulu kala setan menggoda nabi Adam untuk makan buah kuldi juga karena bujuk rayuan setan yang memberikan janji muluk-muluk bila nabi Adam makan buah kuldi yang dilarang oleh Allah. Dengan kata lain tidak patuh terhadap tuntunan dan perintah Allah. Bukankah pekerjaan kelompok kami juga demikian. Janji-janji yang diberikan oleh para ulamaku juga sama. Kalau kau mau masuk surga, ikuti apa yang mereka anjurkan. Iya juga, ya?. Bedanya di mana? Sama-sama memberikan janji yang muluk-muluk. Kemudian aku tanya pada rasulku yang telah menjadi penghuni surga “Rasulku pernahkah kau bertemu dengan para ulamaku di surga?” Beliau menjawab dengan lembut : “ Mengapa kau bertanya demikian?” Aku menjawab: “Sepengetahuanku kalau mereka yang dikatakan ahli tentu sudah pernah melakukan pekerjaan itu. Lha, kalau mereka belum pernah kesana dan menjanjikan bahwa jika aku patuh terhadap apa yang mereka katakan, aku diberikan janji bahkan jaminan bisa masuk surga. Bagaimana ini, rasulku yang kumuliakan?”

“ Kau juga bisa melakukan perbuatan yang sama. Hanya sekedar janji kan?. Katakan pada orang-orang yang percaya padamu bahwa kau bisa memberikan jaminan masuk surga dengan memberikan sertifikat. Katakan pula pada mereka ‘Bahwa bila nanti mereka meninggal tidak masuk surga, mereka boleh komplain dan menuntutmu’ Cobalah pikir dengan jernih, apakah hal itu mungkin terjadi??? Mengapa pula kebohongan yang hanya pantas untuk anak-anak ini bisa masuk ke dalam benakmu? Bukankah ini menandakan bahwa kau belum meyakini secara utuh ajaran yang aku sampaikan. Bukankah telah tertulis dalam kitabku bahwa :

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Al Israa’: 72)

Buta dalam hal ini harus dimaknai sebagai buta hati alias khufur.
Demikian juga bahwa :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa: 36) dan

pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An Nuur: 24)

Sesungguhnya bagian mana yang belum juga kau pahami? Begitu jelasnya contoh perbuatan yang pernah aku berikan”

Aku termenung, namun kekerasan hatiku yang telah diliputi kemarahan dan irihati tetap tidak mau perduli dengan ajaran mulia rasulku. Ajaran yang penuh cinta kasih sebagai asma Allah : Arrahman dan Arrahim. Setiap hari bibirku menyerukan basmallah. Tapi hanya sekedar pemanis bibir. Sedangkan perilaku keseharianku sangat bertentangan dengan ajaran yang Allah berikan melalui rasulku.
Dalam kegelisahanku, aku bertanya : “ Wahai rasulku, mengapa pula orang yang aku aniaya dan aku pukuli tidak membalas sama sekali? Bukankah sesungguhnya mereka juga bisa membalas?” Beliau menjawab dengan senyum yang senantiasa melekat di bibir, “ Karena mereka yakin bahwa mereka melakukan sesuatu yang seirama dengan alam dan ajaranku. Walaupun keyakinan atau jalan yang mereka tempuh tidak sama satu dengan lainnya. Tapi intinya sama yaitu : Damai dan keyakinan seutuhnya bahwa perbuatan mereka akan memberikan rahmat bagi sekalian alam. Mereka sangat yakin bahwa mereka berada pada jalan yang tepat. Keyakinan mereka seutuhnya pada kebijakan Ilahi. Keyakinan pada kebijakan pada Allah sebagai hakim di hari pengadilan akhir merupakan bukti bahwa mereka sangat bersandar pada Allah Yang Maha Adil. Itulah theis. Keyakinan atas kebijakan dan keberadaan Allah sebagaimana tertulis pada ayat :

Asy Syu’araa’: 183
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;
dan

Al Qashash: 83
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Aku masih ngotot bertanya, : “Bukankah jumlah kami yang senang dengan kekerasan dan memaksakan kehendak dengan dalih membela Allah lebih banyak serta semakin banyak dan kuat. Bahkan pengikut kami saat ini juga berhasil diakui sebagai suatu majelis yang didengar para penguasa negeri?” Jawab beliau : “ Mengapa kau masih saja mengandalkan jumlah? Mereka yang berjuang dengan keyakinan hati pada Allah tidak perlu jumlah. Baca ulang sejarah. Tidak satupun penguasa yang mengandalkan kekuatan fisik bisa bertahan lama. Mereka sangat yakin bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan sungguh-sungguh seirama dengan kebijakan Ilahi. Mereka tidak perlu pengakuan dari manusia yang sebagian besar mengandalkan kekuasaan dan jumlah untuk mendzolimi lawan-lawannya, terutama yang lemah. Keyakinan mereka utuh demi perkembangan evolusi jiwa mereka sendiri menebarkan kasih yang telah mereka terima dari Allah. Untuk membersihkan lantai kotor tidak bisa menggunakan air yang kotor pula. Kebijakan dan kasihlah yang mampu menerangi kegelapan hatimu”

Aku bersikeras bahwa yang aku perjuangkan adalah melakukan pembelaan pada Allah serta berjuang di jalan Nya sebagaimana didengungkan oleh para ulamaku.

“Membela Allah? Berjuang di jalan Allah? Wahai kau yang mengaku sebagai umatku, coba duduklah dengan tenang dan renungkan. Ketika kau menyatakan diri sebagai pembela Allah, bukankah kau telah men-sejajarkan diri sama dengan Allah. Dalam pengertianmu sehari-hari pembela dan yang dibela, tentu mempunyai kedudukan yang sejajar dan lagi tentu sang pembela lebih kuat. Apalah artinya kalau dirimu lemah menyatakan pembelaan pada yang lebih kuat. Bukankah ini kesombongan yang selalu banggakan? Apa bedanya dengan setan ketika ditegur oleh Allah ketika tidak mau menyembah kepada manusia? Besar kemungkinan pada saat itu para setan sudah bisa menebak bahwa sebagian besar umat manusia sangat mengincar kedudukannya. Sehingga mereka tidak mau menyembah, karena dianggap sebagai saingan di kemudian hari. Nah, ternyata tebakan mereka tidak keliru. Sekarang telah berhasil perannya direbut oleh manusia yang seharusnya sebagai khalifah Allah menebar kedamaian dan rahmat bagi alam semesta. Bahagialah mereka/para setan bisa pensiun dini dari pekerjaan yang membosankan, menjerumuskan manusia dalam tindakan yang tidak seirama dengan kehendak Allah. Memelihara alam semesta dan kedamaian.”

Aku tercenung panjang, tapi kembali ajaran para ulamaku yang sangat merasuk dalam jiwaku sudah sangat membekas dan telah berkarat menutupi hatiku yang seharusnya dihuni oleh Allah Yang bersifat rahman dan rahim. Kembali kemarahan yang mengaburkan nur ilahi yang terdapat pada setiap diri insan manusia tertutup oleh awan kesombonganku. Ah, yang penting aku telah berhasil merebut peran para setan. Persetan (sori ya, setan, harusnya per-manusia bukan persetan lagi) dengan nasehat bijak rasulku. Aku lebih yakin pada anjuran ulamaku. Pokok- e kalau ikuti anjuran mereka surga jaminannya. Titik

diposting dr http://www.oneearthmedia.net

About me

Categories

Text

universal blog

Harry Potter's